Kisah Masa SMA

CINTA LAYU SEBELUM BERKEMBANG

Pernah dengar istilah cinta monyet? Pasti pernah dong! Katanya “cinta” ini kita alami saat masih berseragam. Dan biasanya nih, yang paling susah kita lupakan adalah “Cinta” di periode putih abu-abu. Aku termasuk salah satunya. Si pemilik “cinta” yang sudah layu bahkan sebelum berkembang.
Aku ingat sekali, ketika kisah itu terjadi. Saat itu adalah tahun pertamaku di SMA. Aku melihatnya pertama kali pada saat masa Orientasi Sekolah. Dia, seperti cerita klasik SMA lainnya adalah salah satu kakak kelas yang juga pengurus OSIS di sekolahku. Dia cukup populer, dan aku terpesona pada pandangan pertama.
Aku menyebutnya Arjuna, ya sebut saja begitu. Dia tidak terlalu tinggi, berperawakan sedang cenderung kurus, dan cukup manis, ah tidak-tidak..dia manis. Aku selalu suka melihatnya.Hari-hari selanjutnya, sudah bisa di tebak. Aku mulai membicarakannya setiap hari dengan sahabatku, meski aku tidak pernah cukup memiliki keberanian untuk mengajaknya bicara. Jangankan bicara dan bertatap muka untuk menyapanya saja aku malu.
Aku selalu senang mengamatinya dari jarak aman. Aku memata-matainya di kantin sekolah. Di setiap tempat yang kemungkinan ada dia, maka akan aku datangi. Dengan berbagai alasan, aku sering mondar-mandir disekitar kelasnya hanya sekedar ingin melihatnya. Aku juga hafal dimana dia parkir sepeda motornya, karena aku hafal betul plat nomornya.
Jika saja ada recrutmen mata-mata, aku pasti juara. Aku mencari tau info tentangnya, detail. Untuk apa? ah...aku juga tidak tau. Aku suka, itu saja.
Satu-satunya peristiwa yang paling berkesan adalah ketika sekolahku mengadakan perayaan lustrum. Hari itu siswa dibebaskan dari kegiatan belajar mengajar. Aku dan sahabatku Umi, bermaksud untuk memanfaatkan kebebasan ini. Dia mengajakku untuk keluar sekolah menemui pacarnya di sekolah lain.
“Vin, ayo temani aku untuk menemui pacarku di sekolahnya,” pintanya.
“Oke, tapi kita kesana pake apa Mi?”
“Kita pinjem motornya Nico, bagaimana?”
Oke, motor Nico pun kami dapat. Kami menuntunnya sampai ke depan pintu gerbang sekolah. Waktunya bersiap untuk meluncur. Ku ‘stater’ motor Nico, lalu kuinjak pedal gigi dengan kakiku. Umi pun telah bersiap membonceng di belakangku. Lalu kuputar gas dengan kencang, anehnya motor justru mati. Lalu ku ulangi prosesnya, menekan tombol start, injak pedal gigi, lalu putar gas, lagi-lagi motor mati. Begitu seterusnya. Kami tidak sadar ternyata motor Nico memakai system kopling untuk menjalakannya. Celakanya lagi, aku tidak bisa memakai motor koplingan. Ditengah keputusasaan, tiba-tiba sebuah motor menghampiri kami. Itu kak Sani, saudara Umi. OMG…dia berboncengan dengan kak Arjun. Aaarrgghh..aku grogi setengah mati.
“Kenapa dek, motornya mogok?” tanya kak Sani.
“Eemm..enggak kak, anu..cuma, motornya koplingan aku gak bisa pakenya,” jawabku terbata-bata dengan jantung yang berdegub begitu kencang karena ada kak Arjun disini.
“Lha emang ini motornya siapa?” tanya kak Arjun.
“Motor Nico kak, temenku. Kami gak tahu kalau motornya ternyata koplingan,” jawab Umi
“Oh..gitu. Ya udah kita tukeran motor aja. Ini pake motorku, gak koplingan kok,”
Aahh kak Arjun udah ganteng, baik hati pula. Dengan perasaan yang masih melayang-layang, aku dan Umi melaju diatas motor milik kak Arjun. Aku sempat berharap lain waktu aku bisa dibonceng sama kak Arjun pake motor ini. Yah, harapan aja kok, boleh dong.
 Tawa riang mengiringi sepanjang perjalanan kami, hingga sampai Umi bertemu dengan pacarnya, lalu kami pun kembali lagi ke sekolah.
Saat itu dikelas, acara syukuran makan-makan menyambut lustrum pun sudah dimulai. Kami telah memesan nasi box yang kini tertumpuk didepan kelas dan siap untuk dibagikan. Aku yang masih diselimuti perasaan bahagia berusaha untuk pamer dengan teman sebangkuku Ratih.
“Eh Ratih, tahu gak, tadi aku naik motor shogunnya kak arjun lho,” ceritaku berbunga-bunga.
“Masa sih? Ah aku gak percaya. Kamu ngayal kali,” ucapnya menyindirku.
“Coba liat ini dengan jelas. Baca baik-baik,” aku menunjukkan gantungan kunci yang kebetulan disitu tertulis sebuah nama ‘Arjuna’.
“Haah..kok bisa, gimana ceritanya Vin?” Ratih keheranan melihatnya.
Aku berjingkrak-jingkrak histeris didepan kelas bersama ratih merasakan euphoria yang tak terkira karena kejadian ini. Hingga tanpa sadar aku menyenggol tumpukan nasi box yang ada di depan kelas. Bruuukk!! Uups !! Seketika semua teman memperhatikanku dengan tatapan sinis.
“ Huu..hu..Vina, hati-hati dong!! “Awas lho nanti nasinya tumpah”
“Iya, maafkan aku teman-teman.” Jawabku sambil meringis malu. Kutata kembali tumpukan nasi box itu. Untung gak ada yang tumpah. Huh, selamat!
Acara syukuran makan-makan pun selesai. Aku yang masih berada diatas awan, tak henti-hentinya tersenyum sendiri dalam setiap jengkal langkahku. Kali ini menuju kelas Umi. Kami berdua bermaksud untuk mengembalikan kunci motor milik kak Arjun. Sesampainya kami diteras kelas kak Arjun, kuberanikan diri untuk melambaikan tangan dan memanggil lirih namanya. Rupanya dia telah melihatku, lalu ia pun keluar kelas menemui kami.
“Ini kunci motornya, makasih banyak ya kak,” ucapku sambil menyerahkan kunci miliknya
"Iya sama-sama. Kamu parkir dimana motornya?” tanya kak Arjun.
“ Di belakang kelasku 1.5,“ jawabku. Lalu akupun bertanya kembali, “Kak Arjun, trus kunci motor Nico mana?”
“Udah aku kembalikan langsung sama anaknya,” jawabnya.
“Oh gitu ya..makasih ya kak.” Ia pun menjawab “Iya.”
Sejak saat itu, hari-hariku di SMA menjadi begitu penuh warna karena kak Arjun. Hingga tak terasa sudah beberapa bulan ku lewati dan dia tetap menjadi penyemangatku yang utama. Meski setelah kejadian itu, aku tak pernah lagi berbincang-bincang dengannya. Aku hanya tetap menjadi pengagum beratnya.
Lalu? Sudah aku katakan kan di awal, bahwa cerita cinta ini layu sebelum berkembang. Aku bahkan belum sempat mengenalnya lebih jauh.
Hari itu cerah sebenarnya, tapi mendadak kelabu karena aku mendengar kabar tentang Kak Arjun-ku ini. Aku hanya terdiam ketika umi memberi tahu kabar yang ia dengar entah dari mana.
“Vin, kamu dengar gosip terbaru tentang kak Arjun gak?” Umi tergopoh-gopoh menghampiriku.
“Hah, gossip apaan? Aku gak dengar apa-apa,” jawabku cuek sambil menata buku-bukuku kedalam tas dan bersiap untuk pulang. Kami pun berjalan menyusuri teras  kelas, kemudian melewati tempat parkir sepeda motor. “Emang ada apaan coba? Ayo kasih tahu!” tanyaku.
“Bener lho ya, tapi kamu jangan kecewa. Aku dengar kak Arjun sekarang pacaran sama Indah, anak kelas 1.4.”
Seketika langkahku terhenti, tepat di tepi tempat parkir. Lalu aku menoleh pada Umi.
“Kamu pikir aku percaya? Itu kan cuma gosip, belum ada bukti yang jelas. Ayo jalan!”
Baru saja kaki ini berjalan beberapa langkah, tiba-tiba harus terhenti lagi. Kali ini bukan karena gosip dari Umi, tapi karena mataku melihat sesosok yang sangat aku kenal berada tepat didepanku. Ya, itu kak Arjun. Kulihat dia sedang menarik motornya dari tempat parkir dan bersiap untuk melaju. Tapi…kali ini dia tidak sendiri. Seorang gadis cantik memboncengnya dibelakang. Aku mengenalnya, dia Indah anak kelas 1.4. Seketika itu hatiku luluh lantah, hancur berkeping-keping bak tersambar petir disiang bolong. Pupus sudah semangatku kali ini. Oh..kak Arjun, ternyata kita tidak berjodoh, dan cintaku kini telah layu sebelum berkembang.


"Cinta monyet merupakan cinta yang mudah datang tapi juga mudah pergi, termasuk karena layu sebelum berkembang. Karena sang pemilik cinta itu, belum paham betul apa makna yang sesungguhnya dari cinta."



Eries, Agustus 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Anak

Toilet Training

Cerita berbuka puasa