Cerita berbuka puasa
Buka Puasa
Lelah, penat, lapar dan haus terbayar sudah setelah kulangkahkan kaki ini masuk kedalam rumah. Tercium aroma harum masakan yang begitu menggugah selera. Samar-samar kulihat istriku tengah sibuk berjibaku dengan peralatan tempurnya didapur. Dia menghampiriku lalu mencium tanganku. "Ayah, masakan sudah siap. Ayo duduk, sebentar lagi waktunya berbuka puasa".
Mataku dimanjakan oleh pemandangan lezat yang ada dimeja makan. Asap tipis terlihat mengepul diatas permukaan mangkuk, menebarkan aroma segar khas sayur asem. Lalu ada pula belut goreng yang wanginya pun tak kalah gurih dengan mendoan tempe hangat disamping nya. Ditambah lalapan mentimun dan taoge rebus serta sambal terasi kesukaanku, yang sedari tadi telah merangsang air liurku untuk memproduksi enzim amilase secara berlebihan, seolah telah siap untuk melumatnya. Apalagi jika dinikmati dengan nasi hangat, bisa habis dua piring aku. Ah, rasanya perutku sudah tidak sabar untuk menyantap mereka. Astaghfirullahaladzim..apa yang sedang kupikirkan, ini kan masih puasa.
Dung..dung..dung.."Allahu Akbar, Allahu Akbar."
Alhamdulillah, sudah waktunya berbuka puasa. Langsung kuteguk segelas air putih ditambah teh manis sebagai pembuka. Lalu akupun meminta istriku untuk mengambilkan nasi untukku.
"Mah, tolong ambilkan nasi ya!"
Dengan penuh senyum ia mengambil piring dari rak lalu membuka rice cooker yang berada didekatnya.
"Astagfirullah!!" teriak istriku.
"Ada apa mah??" tanyaku heran.
"Emm..anuu..yah, mamah lupa menekan tombol 'cook' nya."
"#$%&@!!??#€®£¥"
Eries, September 2017
Lelah, penat, lapar dan haus terbayar sudah setelah kulangkahkan kaki ini masuk kedalam rumah. Tercium aroma harum masakan yang begitu menggugah selera. Samar-samar kulihat istriku tengah sibuk berjibaku dengan peralatan tempurnya didapur. Dia menghampiriku lalu mencium tanganku. "Ayah, masakan sudah siap. Ayo duduk, sebentar lagi waktunya berbuka puasa".
Mataku dimanjakan oleh pemandangan lezat yang ada dimeja makan. Asap tipis terlihat mengepul diatas permukaan mangkuk, menebarkan aroma segar khas sayur asem. Lalu ada pula belut goreng yang wanginya pun tak kalah gurih dengan mendoan tempe hangat disamping nya. Ditambah lalapan mentimun dan taoge rebus serta sambal terasi kesukaanku, yang sedari tadi telah merangsang air liurku untuk memproduksi enzim amilase secara berlebihan, seolah telah siap untuk melumatnya. Apalagi jika dinikmati dengan nasi hangat, bisa habis dua piring aku. Ah, rasanya perutku sudah tidak sabar untuk menyantap mereka. Astaghfirullahaladzim..apa yang sedang kupikirkan, ini kan masih puasa.
Dung..dung..dung.."Allahu Akbar, Allahu Akbar."
Alhamdulillah, sudah waktunya berbuka puasa. Langsung kuteguk segelas air putih ditambah teh manis sebagai pembuka. Lalu akupun meminta istriku untuk mengambilkan nasi untukku.
"Mah, tolong ambilkan nasi ya!"
Dengan penuh senyum ia mengambil piring dari rak lalu membuka rice cooker yang berada didekatnya.
"Astagfirullah!!" teriak istriku.
"Ada apa mah??" tanyaku heran.
"Emm..anuu..yah, mamah lupa menekan tombol 'cook' nya."
"#$%&@!!??#€®£¥"
Eries, September 2017
Hahaha... penonton kecewa.. nasinya belum matang.
BalasHapusBagus Naris 😁
Thank you, Ninin.🙏😊
Hapus