Kisah Arjuna

SANG PENDAMPING ARJUNA

"Bang, pelan-pelan ya jalannya!"
Sengaja kuperintahkan abang becak untuk memperlambat laju rodanya agar aku bisa menikmati indahnya pemandangan desa ini. Desa tempat kelahiranku yang 5th sudah kutinggalkan demi mencari ilmu di negeri orang. Pandanganku menyapu ke segala arah di sekelilingku. Sungguh asri, dengan latar belakang pegunungan diujung selatan sana. Tak banyak yang berubah disini, hanya saja beberapa bangunan rumah yang tampak asing bagiku.
"Bang,tolong berhenti disebelah sana." Ku arahkan telunjukku pada segerombolan orang-orang yang tengah berkumpul di lapangan desa.
"Tunggu ya bang, saya ingin melihat-lihat sebentar."
Kakiku melangkah menuju ke lapangan. Orang-orang itu mengerumuni sebuah panggung yang cukup besar. Panggung itu sedang ditata. Kelir putih yang membentang dari ujung ke ujung panggung juga debog yang  ada dibawahnya mendominasi tampilan. Blencong listrik pun telah dipasang tergantung didepan atas tepat ditengah kelir.  Juga ada beberapa gong, bonang, kempul, siter dan peralatan gamelan lainnya yang belum sempat ditata. Sepertinya akan ada pertunjukkan wayang kulit seperti biasanya untuk menyambut hari Idul Fitri esok.
Aku memperhatikan seseorang yang sedang membongkar kotak wayang. Ia mengeluarkan semua wayang yang ada didalamnya. Juga cempala dan kepyaknya. Ia mulai memilah-milah mana wayang yang akan dimainkan dan mana yang akan di 'simping' pada kelir. Aku rasa, dia seorang penyimping. Aku teringat dengan mendiang kakekku, dia seorang dalang yang sangat terkenal pada masanya. Beliau pula yang pertama kali mengenalkanku pada wayang. Saat itu aku masih kelas 1 SD.
☀☀☀☀
"Kek, apa nama wayang ini? Kok bentuknya aneh, gendut, pendek dan jelek," tanyaku waktu itu.
"Itu semar cah bagus," jawabnya "sang pamomong Raden Arjuna juga para pandawa."
"Kenapa semar rupanya jelek kek, tidak tampan  seperti para pandawa," tanyaku penasaran.
"Kamu mau tahu ceritanya cah bagus?" Aku mengangguk antusias.
" Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggal merasa malu lalu membanting telur itu ke bumi sehingga pecah menjadi tiga bagian, lalu menjelma menjadi  tiga satria kembar  yang bagus rupanya.
Kulit telur menjadi satria tertua yang diberi nama Bambang Tejamaya.  Putih telur menjadi satria kedua diberi nama Bambang Ismaya. Sedangkan kuning telur satria paling muda diberi nama Bambang Manikmaya. Pada suatu hari Bambang Tejamaya dan Bambang Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan menelan gunung. Bambang Tejamaya berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namun justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar. Sedangkan Bambang Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit. Setelah melewati beberapa hari seluruh bagian gunung pun berhasil ia telan, namun sayang gunung itu tidak dapat dikeluarkan. Akibatnya Bambang Ismaya pun bertubuh bulat dan benjol-benjol. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar Batara Guru.
Bambang Tejamaya diganti namanya menjadi Togog. Tugasnya adalah menjadi pelayan manusia yang berwatak jahat dan memusuhi manusia yang baik.
Bambang Ismaya namanya diganti menjadi Semar. Tugasnya mengabdi kepada manusia yang berwatak baik dan memberi petunjuk yang baik pula.
Sedangkan Bambang Manikmaya yang bergelar Batara Guru, berhasil mendapatkan kekuasaan karena itu ia menjadi sombong. Sang Hyang Tunggal ayahnya, akhirnya mengutuknya sehingga Bambang Manikmaya memiliki empat tangan, kakinya kecil dan lemah, bertaring juga belang lehernya.
Ketiganya akhirnya menyadari bahwa didunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Tiap manusia tentu memiliki cacat dan kekurangan nya masing-masing."
☀☀☀☀
"Mas Arjun, kenapa malah disini?"
Tiba-tiba seorang gadis cantik menepuk pundakku. Senyumnya masih sangat manis seperti dulu saat aku tinggalkan. Renita, dialah Rara Irengku. Dia pula lah yang menjadi alasan kenapa aku kembali kesini.
"Ayo mas kita pulang. Ibu dan yang lainnya sudah cemas menunggu mas Arjun yang tak kunjung tiba dirumah." Aku pun melanjutkan perjalanan sambil menikmati kembali indahnya pemandangan desa ini, tentunya bersama dengan Renita. Namun entah mengapa, pemandangan diujung sana terasa kalah indah dibandingkan dengan keindahan rasa yang ku nikmati sekarang bersama Renita dalam becak tua yang sempit ini.



#smansamenulis
#tulisan_kedua

Eries, Agustus 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Anak

Toilet Training

Cerita berbuka puasa