Kisah Arjuna

KENANGAN YANG HILANG

 Waktu sudah tengah malam, hampir berganti pagi. Namun diluar sana sayup-sayup kudengar hiruk pikuk orang berlalu-lalang. Yah, itu karena ini hari Idul Fitri yang membuat semua orang tak ingin melewatkannya dengan sia-sia meski hanya sedetik. Tiba-tiba aku teringat dengan panggung wayang yang beberapa waktu lalu kulihat. Akupun mengajak Renita menonton.
☀☀☀☀
"Ramai sekali mas, tidak seperti tahun-tahun kemarin," ujar Renita.
Kami berdua mencoba menerobos dan mendesak masuk ketengah lautan manusia yang memadati panggung ditengah sana. Akhirnya kamipun menemukan tempat yang agak lapang untuk kami berpijak melihat pertunjukan ini. Kunikmati wayang-wayang itu bergerak lincah lewat tangan terampil sang dalang. Dibalik kelir kulihat bayang-bayang pertempuran sengit antara Werkudara dan Duryudana. Mereka mengangkat gaman andalannya masing-masing. Benturan antara Gada Lambitasari dan Gada Lukitasari mengeluarkan nyala api bak kilat. Werkudara lengah, ia terkena hantaman Gada Lambitasari milik Duryudana di pelipisnya hingga pingsan. Namun satriya panenggak pandhawa itu segera bangkit dan mengayunkan kembali Gada Lukitasari kearah lawannya. Duryudana pun melarikan diri hingga terdesak turun ke sungai. Namun naas, sabetan gada Werkudara mematahkan tulang paha kaki kirinya. Ia pun diseret ke tempat lapang lalu dipukuli hingga tak bernyawa lagi.

"Tunggu..kenapa Duryudana gugur?" tanyaku tiba-tiba.
"Lho mas, ini kan cerita Baratayudha. Sudah pasti pandhawa yang menang," jawab Renita.
"Iya aku tahu, maksudku kenapa secepat ini? Berarti ceritanya sudah selesaikah?"
"Iya mas, pertunjukannya sudah selesai. Kita terlambat datang."
Aku masih terheran-heran kenapa baru tengah malam pertunjukannya sudah selesai, bukankah biasanya baru dimulai? Aku hanya sempat menontonnya 15 menit saja. Orang-orang pun mulai berangsur menjauh dari panggung ini. Aku mengikuti kemana orang-orang itu melangkah, ternyata ada panggung lain tak jauh dari lapangan. Penontonnya lebih banyak. Suara musik terdengar begitu keras di telinga sehingga membuat orang-orang bergoyang mengikuti iramanya.
"Mas Arjun heran ya?"
"Acara apa ini?" tanya ku keheranan.
"Ini orkes dangdut mas, artisnya dari ibu kota lho!Sudah beberapa tahun belakangan ini desa kita mengagendakannya sebagai acara menyambut Idul Fitri selain wayang tadi."
"Lalu pengajian akbarnya?"
"Sudah ga ada mas, mereka lebih tertarik dengan acara semacam ini."
Aku hanya bisa mengelus dada menyaksikan kejadian didepan mataku. Acara musik yang memamerkan aurat penyanyinya, juga goyangan yang...membangkitkan birahi penontonnya. Tak luput juga para pemuda yang bergerombol berpesta pora menenggak alkohol dan menghisap candu. Inikah yang mereka sebut menyambut Idul Fitri? Lalu dimana faedah nya? Hanya menghamburkan uang dan menambah kemaksiatan saja.
"Ayo kita pulang , Re."
"Baik mas."
Kami berdua pun berjalan ditengah keheningan malam yang telah tercemar oleh tingkah laku orang-orang itu.
Sungguh, aku benar-benar kehilangan. Bertahun-tahun dinegeri orang berharap kembali bisa menyaksikan tradisi yang aku rindukan, tapi yang kudapat hanyalah kekecewaan.
"Re, aku rindu saat-saat kita masih kanak-kanak dulu. Bersukacita menyambut Idul Fitri karena ingin mendapatkan petuah lewat pertunjukan wayang dan juga mendengarkan tausiyah semalaman hingga terkantuk-kantuk. Saat itulah aku selalu melihatmu begitu cantik dengan baju baru yang kau kenakan saat lebaran."
"Iya mas..dan saat itu pula adalah masa yang menyenangkan juga menyebalkan bagiku karena mas Arjun selalu meledekku, menjahiliku hingga aku menangis. Tapi setelah itu mas Arjun meminta maaf dengan sebuah permen gulali untukku. Mas tahu, itu adalah gulali termanis yang pernah aku makan karena itu pemberian darimu"
Kulihat senyum manisnya dalam kegelapan malam. Tentu saja masih sama seperti yang dulu.
"Bagaimana jika kita kembalikan masa-masa itu Renita?" Ucapku.
"Maksud mas Arjun? Aku tidak mengerti."
"Kita adakan pertunjukan wayang lalu dilanjutkan dengan pengajian akbar hingga subuh. Kita juga akan membagikan gulali gratis pada setiap anak-anak yang hadir. Bagaimana, kau setuju?"
"Benarkah, tentu saja aku setuju. Tapi kapan mas?"
"Akhir bulan syawal ini tentu. Saat pesta pernikahan kita."




#smansamenulis
#tulisan_ketiga

Eries, Agustus 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Anak

Toilet Training

Cerita berbuka puasa