Hutang Budi
HUTANG MASA LALU
"Huu..huuu..huuu...." suara tangis itu terdengar menuju arahku
"Ada apa nak, kenapa kamu menangis?" tanyaku
"Mama marah lagi sama aku yah." jawabnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Pasti, Anton nakal ya? Makanya mama marah."
"Enggak ko yah, Anton cuma gak sengaja numpahin susu dilantai, Anton udah minta maaf sama mama, tapi mama tetep aja marah-marah" jelasnya
☀☀☀☀
Ini bukanlah yang pertama, tapi sudah yang ke sekian kalinya Anton datang padaku menangis karena dimarahi mamanya. Lusi...istriku tercinta, dulu ketika Anton masih bayi ia sangat lembut, tapi entah kenapa setahun belakangan ini, ia mulai berbeda pada buah hati kami. Lusi sering marah-marah.
Suatu malam diruang keluarga, kami sedang menonton tv dan memulai perbincangan. Saat itu Anton telah tertidur di kamarnya.
"Mah, kenapa kamu sekarang sering marah-marah pada Anton, kasihan kan dia menjadi ketakutan." tanya ku sambil merangkulnya mesra.
Tapi tiba-tiba, dia terperanjat dari tempat duduknya dan berkacak pinggang didepanku.
"Kenapa ayah bertanya seperti itu?? Bukankah sudah pernah aku katakan, bahwa aku mulai tidak suka dengan Anton."
"Ya..tapi kenapa dengan Anton?? Dia anak yang baik. Apa itu karena...wajah Anton sangat mirip dengan Toni?"
Lusi terkejut mendengar ucapanku, ia melotot tajam ke arahku, lalu mengacungkan telunjuknya ke wajahku. Ia tampak sangat marah.
"Jangan pernah bicara lagi tentang laki-laki itu" Ia pun pergi..
☀☀☀☀
Ya..Lusi punya masa lalu yang kelam dengan Toni. Laki-laki yang dulu pernah sangat dicintainya, laki-laki yang pernah berjanji akan menikahinya. Hingga ia pun menyerahkan segalanya, segenap jiwa dan raganya untuk laki-laki itu. Namun takdir berkata lain, Toni mengkhianatinya. Lusi pernah memergoki Toni sedang memadu kasih bersama wanita lain didepan matanya sendiri. Hati Lusi pun hancur seketika, seolah dunia runtuh. Ia berlari kejalanan tanpa arah sambil menangis menahan sakit yang terperih. Toni mengejarnya dan memaksa Lusi masuk ke mobil. Mereka bertengkar hebat didalam mobil,sementara itu mobil melaju dengan sangat kencang. Tiba-tiba ada seorang pengendara motor berada tepat didepan mereka, Toni pun berusaha menghindar namun akhirnya mobil mereka justru melewati pembatas jalan dan menabrak pohon besar. Kejadian itu merenggut nyawa Toni. Sedangkan Lusi, mengalami beberapa patah tulang. Yaah..kejadian naas itulah yang mempertemukanku dengan Lusi, akulah pengendara motor itu. Dan sejak saat itu aku mulai dekat dengan Lusi. Berawal dari rasa iba terhadap gadis yang mengalami depresi , dikhianati kekasih, ditinggalkan selamanya, hingga ia pernah mencoba beberapa kali untuk bunuh diri. Aku benar-benar iba padanya, dan tak sadar telah jatuh cinta padanya. Lalu kami pun menikah. Aku menerima Lusi apa adanya karena aku mencintainya.
☀☀☀☀
"Ayah, itu makam siapa?" tanya Anton sembari menunjuk batu nisan didepan kami.
"Ini makam teman ayah, namanya Toni" jelasku.
"Om Toni meninggal karena apa yah? Apa dia teman baik ayah?" tanya nya polos.
"Bukan nak, dia bukan teman baik ayah. Dia meninggal karena kecelakaan dan ayah merasa berhutang budi padanya"
"Hutang budi apa yah?"
Tak ku hiraukan pertanyaan Anton, aku hanya tertunduk diam mengenang kejadian yang lalu. Dan seharusnya aku membencinya, laki-laki yang telah membuat istriku berubah. Tapi tidak, aku tidak membencimu Toni...sungguh, aku justru merasa berhutang budi padamu karena bagaimana pun juga kejadian yang kalian alami, merupakan suatu jembatan penghubung untukku bertemu dengan wanita yang sangat aku cintai yang kini telah menjadi istriku. Semoga aku bisa menghapus bayang-bayangmu darinya, agar kami bisa bahagia. Dan Anton...kau tak perlu khawatir Toni, aku akan merawatnya dengan baik seperti anakku sendiri. Anggaplah itu sebagai balas budi ku padamu. Semoga kau tenang di alam sana.
"Ayah..ayo kita pulang" rengekan Anton membuyarkan lamunanku.
"Iya nak, mari kita pulang."
Anton menggenggam tanganku erat dan tersenyum manis. Ah... biarlah kami simpan rahasia ini, belum saatnya kamu tahu tentang semuanya nak. Tetaplah menjadi anakku yang manis dan bahagia bersamaku.
Eries
"Huu..huuu..huuu...." suara tangis itu terdengar menuju arahku
"Ada apa nak, kenapa kamu menangis?" tanyaku
"Mama marah lagi sama aku yah." jawabnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Pasti, Anton nakal ya? Makanya mama marah."
"Enggak ko yah, Anton cuma gak sengaja numpahin susu dilantai, Anton udah minta maaf sama mama, tapi mama tetep aja marah-marah" jelasnya
☀☀☀☀
Ini bukanlah yang pertama, tapi sudah yang ke sekian kalinya Anton datang padaku menangis karena dimarahi mamanya. Lusi...istriku tercinta, dulu ketika Anton masih bayi ia sangat lembut, tapi entah kenapa setahun belakangan ini, ia mulai berbeda pada buah hati kami. Lusi sering marah-marah.
Suatu malam diruang keluarga, kami sedang menonton tv dan memulai perbincangan. Saat itu Anton telah tertidur di kamarnya.
"Mah, kenapa kamu sekarang sering marah-marah pada Anton, kasihan kan dia menjadi ketakutan." tanya ku sambil merangkulnya mesra.
Tapi tiba-tiba, dia terperanjat dari tempat duduknya dan berkacak pinggang didepanku.
"Kenapa ayah bertanya seperti itu?? Bukankah sudah pernah aku katakan, bahwa aku mulai tidak suka dengan Anton."
"Ya..tapi kenapa dengan Anton?? Dia anak yang baik. Apa itu karena...wajah Anton sangat mirip dengan Toni?"
Lusi terkejut mendengar ucapanku, ia melotot tajam ke arahku, lalu mengacungkan telunjuknya ke wajahku. Ia tampak sangat marah.
"Jangan pernah bicara lagi tentang laki-laki itu" Ia pun pergi..
☀☀☀☀
Ya..Lusi punya masa lalu yang kelam dengan Toni. Laki-laki yang dulu pernah sangat dicintainya, laki-laki yang pernah berjanji akan menikahinya. Hingga ia pun menyerahkan segalanya, segenap jiwa dan raganya untuk laki-laki itu. Namun takdir berkata lain, Toni mengkhianatinya. Lusi pernah memergoki Toni sedang memadu kasih bersama wanita lain didepan matanya sendiri. Hati Lusi pun hancur seketika, seolah dunia runtuh. Ia berlari kejalanan tanpa arah sambil menangis menahan sakit yang terperih. Toni mengejarnya dan memaksa Lusi masuk ke mobil. Mereka bertengkar hebat didalam mobil,sementara itu mobil melaju dengan sangat kencang. Tiba-tiba ada seorang pengendara motor berada tepat didepan mereka, Toni pun berusaha menghindar namun akhirnya mobil mereka justru melewati pembatas jalan dan menabrak pohon besar. Kejadian itu merenggut nyawa Toni. Sedangkan Lusi, mengalami beberapa patah tulang. Yaah..kejadian naas itulah yang mempertemukanku dengan Lusi, akulah pengendara motor itu. Dan sejak saat itu aku mulai dekat dengan Lusi. Berawal dari rasa iba terhadap gadis yang mengalami depresi , dikhianati kekasih, ditinggalkan selamanya, hingga ia pernah mencoba beberapa kali untuk bunuh diri. Aku benar-benar iba padanya, dan tak sadar telah jatuh cinta padanya. Lalu kami pun menikah. Aku menerima Lusi apa adanya karena aku mencintainya.
☀☀☀☀
"Ayah, itu makam siapa?" tanya Anton sembari menunjuk batu nisan didepan kami.
"Ini makam teman ayah, namanya Toni" jelasku.
"Om Toni meninggal karena apa yah? Apa dia teman baik ayah?" tanya nya polos.
"Bukan nak, dia bukan teman baik ayah. Dia meninggal karena kecelakaan dan ayah merasa berhutang budi padanya"
"Hutang budi apa yah?"
Tak ku hiraukan pertanyaan Anton, aku hanya tertunduk diam mengenang kejadian yang lalu. Dan seharusnya aku membencinya, laki-laki yang telah membuat istriku berubah. Tapi tidak, aku tidak membencimu Toni...sungguh, aku justru merasa berhutang budi padamu karena bagaimana pun juga kejadian yang kalian alami, merupakan suatu jembatan penghubung untukku bertemu dengan wanita yang sangat aku cintai yang kini telah menjadi istriku. Semoga aku bisa menghapus bayang-bayangmu darinya, agar kami bisa bahagia. Dan Anton...kau tak perlu khawatir Toni, aku akan merawatnya dengan baik seperti anakku sendiri. Anggaplah itu sebagai balas budi ku padamu. Semoga kau tenang di alam sana.
"Ayah..ayo kita pulang" rengekan Anton membuyarkan lamunanku.
"Iya nak, mari kita pulang."
Anton menggenggam tanganku erat dan tersenyum manis. Ah... biarlah kami simpan rahasia ini, belum saatnya kamu tahu tentang semuanya nak. Tetaplah menjadi anakku yang manis dan bahagia bersamaku.
Eries
Komentar
Posting Komentar