Cerita Anak

KISAH ULIL SI ULAT MUNGIL



Disebuah hutan belantara yang sangat lebat, hiduplah seekor ulat kecil bernama Ulil. Ia seekor ulat yang sangat pemberani, cerdik dan selalu ingin tahu. Tapi dia juga suka iri terhadap kehebatan makhluk lain.
Pada suatu hari Ulil berjalan-jalan ditengah semak belukar, merembet dari daun yang satu ke daun yang lainnya. Dari kejauhan ia melihat beberapa manusia tengah berkumpul  mengerumuni sesuatu.

"Apa gerangan yang dilakukan orang-orang itu ditengah hutan seperti ini?" Gumamnya dalam hati.
Ia pun mengintip dari balik dedaunan hijau yang menjalar diantara pohon besar. Dari atas sana Ulil melihat orang-orang sedang memperhatikan dan meneliti sebuah bunga yang sangat besar. Bunga itu tak memiliki batang dan tumbuh menempel pada pohon inangnya. Ulil tak pernah melihat bunga sebesar itu sebelumnya.
Setelah orang-orang itu pergi, Ulil mulai merembet berjalan menuju bunga itu.
Ada bau yang sangat busuk ketika Ulil mendekatinya. Semakin dekat semakin busuk.

"Hei, aku Ulil. Siapa namamu? Kenapa baumu tidak enak sekali? Bukankah seharusnya bunga itu berbau harum!" Sapa Ulil padanya.
"Namaku Rafli. Aku adalah bunga bangkai, karena itu bauku sangat busuk seperti bangkai," jawabnya.
"Oh..begitu,"  gumam Ulil "lalu, untuk apa orang-orang itu mengerumunimu?"
"Mereka sedang menelitiku, karena aku adalah bunga yang langka sehingga mereka sangat peduli padaku," jawab Rafli.

Ulil terlihat mengernyitkan dahi, seolah tak senang dengan ucapan Rafli. Ia merasa iri.

"Hah, mana mungkin mereka peduli padamu, baumu saja sangat busuk! Coba kau lihat aku! Bukankah aku ini sangat menarik! Tubuhku kecil dan imut, buluku juga sangat indah, cara berjalan ku pun sangat unik dan lucu, iya kan??" Ulil melenggok-lenggokkan tubuhnya dengan berjalan melingkar dan berguling-guling. Sementara Rafli, hanya menatapnya.
"Tapi anehnya, setiap kali orang melihatku, mereka akan langsung menjerit dan berlari ketakutan. Bahkan beberapa dari mereka ada yang menyiksa teman kami hingga mati. Aku heran dengan manusia-manusia itu. Lalu, apa hebatnya kau dibandingkan denganku?" Ulil berkacak pinggang tepat ditengah mahkota Rafli.
"Aku, juga tidak tahu!" Jawab si bunga bangkai.
"Baiklah aku akan mencari Peri Hutan. Aku ingin memintanya untuk menjadikanku makhluk yang paling cantik dihutan ini agar para manusia itu tertarik melihatku."

Ulil pun segera berlalu meninggalkan si bunga bangkai. Tekadnya sudah bulat untuk mengembara meminta pertolongan pada Peri Hutan. Hari demi hari telah dilewati, ia berjalan diantara semak belukar yang lembab tertutup dedaunan pohon yang berguguran. Melewati gelapnya hutan, rimbunnya rerumputan, bahkan terpaan angin dan hujan pun turut menyertainya. Ia tak putus asa, demi mencapai keinginannya untuk menjadi makhluk tercantik dihutan ini.
Singkat cerita, Ulil pun akhirnya bertemu dengan Peri Hutan.

"Ada apa gerangan kau mencariku, hei ulat kecil?" Tanya sang peri.
"Peri, aku mohon padamu ubahlah aku menjadi makhluk yang paling cantik di hutan ini," pinta Ulil pada sang peri.
"Bukankah kau sudah sangat cantik dengan bentukmu yang seperti ini nak? Apa yang salah dari dirimu?" Sang peri keheranan.
" Aku memang cantik, tapi para manusia merasa jijik melihatku bahkan tidak segan membunuh teman-temanku. Jadi aku ingin sang peri mengubahku menjadi makhluk yang disukai para manusia." Pinta Ulil.
"Apa kau yakin dengan menjadi makhluk yang disukai para manusia, mereka tidak akan menyakitimu?" Kata sang peri.
"Tentu saja peri!" Ucap Ulil dengan yakin, "jika manusia menyukaiku, mereka pasti tidak akan menyakitiku," lanjut nya.

Akhirnya sang peri pun luluh hatinya. Ia berjanji akan mengabulkan permintaan ulat mungil itu. Namun, untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Peri Hutan meminta Ulil untuk berpuasa selama kurang lebih 20 hari lamanya. Ulil pun menuruti perkataan sang peri. Ia mulai merembet mencari tempat perlindungan yang aman untuk memulai puasanya. Ia menempel pada sebuah daun yang besar disamping ranting yang kokoh. Ulil menahan lapar dan haus selama berhari-hari. Ia merasakan seluruh tubuhnya terus berubah. Hingga tepat 20 hari, waktunya Ulil membuka mata.

Betapa terkejutnya ia, melihat seluruh tubuhnya berubah menjadi makhluk yang sangat cantik dengan kedua sayap berwarna-warni yang sangat indah. Itu adalah kupu-kupu. Ia begitu gembira. Di rentangkan kedua sayapnya, kupu-kupu Ulil pun bersiap terbang melintasi rimbunnya hutan. Ia tidak sabar ingin pamer wujud barunya itu pada temannya, Rafli si bunga bangkai.

"Wah..cantik sekali sayapmu. Siapa kau?" Tanya Rafli pada kupu-kupu Ulil.
"Ini aku Ulil. Apa kau tidak mengenaliku?? Ini wujudku yang baru. Cantik kan?" Kata Ulil menyombongkan diri.
"Iya, kau sangat cantik," jawab Rafli.
Mendengar ucapan Rafli, Ulil begitu tinggi hatinya.

Tak lama kemudian terdengar suara berisik beberapa manusia datang kearah mereka. Itu adalah orang-orang yang dulu pernah meneliti Rafli.

"Hei Rafli, kali ini kau pasti akan kalah denganku. Kita lihat saja nanti, orang-orang itu pasti akan lebih tertarik padaku dari pada denganmu," lagi-lagi Ulil menyombongkan diri.

Saat orang-orang itu mulai mengerumuni Rafli si bunga bangkai, Ulil mencoba menarik perhatian manusia-manusia itu dengan berputar-putar disekitar mereka. Benar saja , perhatian para manusia itu tertuju pada Ulil.

"Hei lihat, ada kupu-kupu yang sangat cantik," teriak salah satu dari mereka.
"Wah benar! Indah sekali sayapnya."
Ulil merasa bangga dengan pujian yang didengar dari para manusia itu. Namun hal itu tidak berlangsung lama.
"Ayo kita tangkap kupu-kupu ini. Kita awetkan lalu dijadikan hiasan dinding dirumah pasti sangat menarik," kata manusia itu.

Apa??? Hiasan?? Ulil begitu kaget mendengarnya. Rasa bangga tadi seketika berubah menjadi takut yang luar biasa. Tanpa disadari mereka telah menghadang Ulil dengan jaring besar ditangannya. Ulil berusaha terbang menjauh, menerobos ranting pohon semampunya. Tapi Ulil tak cukup lihai, ia terperangkap dalam jaring itu. Ulil pun tertangkap. Saat itu ia merasa sangat ketakutan, ia merasa akan segera mati.

Para manusia itu tertawa terbahak-bahak kegirangan. Namun tiba-tiba, braaakk!! Ranting besar pohon inang Rafli patah. Manusia-manusia itu terkejut hingga membuat jaring yang berisi kupu-kupu Ulil pun terlepas. Ulil segera terbang melarikan diri. Rupanya peri hutan telah menolongnya.

Sesampainya ditempat yang aman, Ulil hinggap disebuah dahan tanaman merambat. Ia tampak muram. Peri hutan pun menghiburnya.

"Ulil, kenapa kau bersedih dengan kejadian ini? Apakah kau merasa dunia ini tidak adil padamu?" Tanya peri hutan.
"Bagaimana aku tidak bersedih peri. Aku kira setelah berubah menjadi cantik, mereka akan peduli padaku. Ya, mereka memang peduli tapi mereka juga ingin menyakitiku. Lalu apa gunanya aku menjadi cantik peri?" Ucap Ulil menyesal.
"Bukankah sudah kubilang, bahwa menjadi cantik tidak menjamin  mereka akan menyayangimu. Tapi kau tetap saja keras kepala." Jelas  sang peri.
"Iya peri, aku minta maaf. Sekarang aku sudah sadar. Maukah kau mengembalikan wujud ulatku kembali seperti semula peri?" Pinta Ulil mengiba.

Peri hutan hanya tersenyum. Lalu mencoba mendekatinya.
"Kau masih saja tidak merasa puas Ulil. Tidak semudah itu merubah suatu keadaan. Wujudmu akan tetap menjadi kupu-kupu hingga beberapa waktu, baru kemudian kau akan kembali menjadi ulat. Lalu setelah itu kau pun harus berpuasa kembali untuk menjadi kupu-kupu lagi, begitu seterusnya hidupmu akan selalu berubah. Ini sebagai pengingat agar kau bisa lebih mensyukuri apa yang ada pada dirimu. Jangan iri terhadap makhluk lain, karena setiap makhluk memiliki keistimewaan masing-masing. Apa kau mengerti Ulil?"
"Iya peri, aku mengerti." Ulil menunduk malu.

Begitulah, Ulil si ulat mungil yang kini berubah menjadi kupu-kupu mendapat pelajaran yang sangat berharga. Ia kini telah mengerti bahwa Yang Maha Kuasa sudah menciptakan  setiap makhlukNya sedemikian rupa dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ulilpun kini kembali menjadi si ulat mungil yang lebih percaya diri dengan bentuk tubuhnya. Dan kelak ia pun sudah siap saat harus berubah kembali menjadi kupu-kupu. Ulil akan selalu bersyukur atas kehidupannya sekarang ini walau apapun keadaannya.



Eries, September 2017




Komentar

  1. Selalu bersyukur, meski sulit, anak-anak pasti bisa pada akhirnya. 💪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kakak! Bersyukur harus dimulai sejak dini. 💪

      Hapus
    2. Iya kakak! Bersyukur harus dimulai sejak dini. 💪

      Hapus
  2. Posting maning sing akeh rah mba,
    kr fto2ne azka salwa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Toilet Training

Cerita berbuka puasa