Bullying

JIWA YANG LELAH

Tu..lit..tu..lit…tu..lit..tu..lit... Suara sirine itu meraung-raung memecah keheningan malam. Membuyarkan angan-anganku yang masih mengembara jauh entah kemana. Mencoba menelaah dengan teliti peristiwa yang telah terjadi beberapa menit yang lalu. Tiba-tiba raungan suara lainnya terdengar. Ya, kali ini giliran suara ambulance yang berteriak tak mau kalah dengan sirine itu. Entah kenapa keduanya terdengar seperti berbicara padaku. Seolah mereka sedang menghakimiku, mencaci maki aku, juga menertawakanku atas semua yang telah terjadi disini. Aaaarrrggghh…semua itu membuat kepalaku hampir meledak.
“Selamat malam pak. Maaf, apa anda yang bernama Tommy Hadi Kusuma?” Tanya salah seorang polisi.
“Ya betul, saya Tommy.”
“Anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, karena andalah orang terakhir yang terlihat bersama dengan korban.”
Aku pasrah membiarkan para polisi itu memborgol tanganku, lalu menggiringku masuk kedalam truk tahanan. Sirine itu tak terdengar lagi. Hilang, berganti raungan mesin truk usang yang membawaku menjauh dari tempat itu.
Aku ingat betul, 2 jam yang lalu, saat aku berjalan di koridor apartement nya semua tampak biasa saja. Tak ada yang berbeda. Aku pun bisa dengan mudah masuk ke dalamnya karena aku hapal betul password yang ia gunakan untuk pengaman pintunya. Namun, suasana dalam ruangan itu sungguh berbeda dari biasanya. Semuanya tampak remang, hanya beberapa lampu kecil yang menyala dan sebuah cahaya kelap-kelip yang berasal dari televisi. Samar-samar kudengar suara presenter yang sedang membawakan acara infotainment para artis tersohor di tanah air.
“Pemirsa, beberapa hari yang lalu terjadi insiden yang sangat memalukan dialami oleh penyanyi papan atas kita yang muda nan cantik, Ariana. Hingga saat ini, kejadian itu masih menjadi trending topik dijagad hiburan tanah air. Mari kita dengar pendapat beberapa masyarakat tentang masalah ini.”
“Aku nggak nyangka banget ya, ternyata Ariana itu penyanyi palsu. Malu banget tu pasti, waktu dia ketahuan nyanyi lipsing di acara live, trus sound nya mati, akhirnya kedengeran suara aslinya, ya ampuuun jelek banget”
“Gila !!! Ariana cuma modal tampang cantik doank, tapi suaranya…paraaahh.”
“Kok bisa ya, dia menang berbagai penghargaan musik kalo ternyata nyanyinya Cuma bisa lipsing. Nyogok kali ya..ha..ha..”
“Kecewa banget jadi fans nya. Aku merasa dikhianati.”
“waah..pembohongan publik nih!”
Aku melangkah mendekat ke arah suara televisi itu. Ku lihat dia tengah berbaring malas di sofa depan TV. Ia serius mendengarkan tayangan infotainment ditemani laptopnya yang terbuka di atas meja. Menyala, tapi tak ia sentuh.
“Ar, apa kau baik-baik saja?”
“Ya, seperti yang kau lihat Tom. Aku baik-baik saja,” jawabnya tanpa menoleh padaku.
“Ariana, sudahlah tak usah kau hiraukan pemberitaan di TV itu. Semuanya akan berlalu seiring waktu yang berjalan. Kau kan bukan setahun-dua tahun berkecimpung di dunia hiburan. Aku yakin kau bisa mengatasi masalah ini dengan baik,” ucapku mencoba menghiburnya.
“Ya, kau benar Tommy. Sudah hampir 8   tahun aku terjun kedunia itu. Selama itu pula, aku lelah menghadapi semua ini”
Ku lihat wajahnya sangat lusuh dan pucat. Bahkan dengan make-up yang masih menempel di wajah cantiknya pun, ia tetap terlihat pucat dan putus asa.
“Ar, aku rasa kau butuh istirahat sekarang.”
Kali ini dia beranjak dari tempat duduknya, “ baiklah aku akan tidur. Tapi aku ingin mandi dulu membersihkan tubuh dan pikiran yang ruwet ini.” Ia pun mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar mandi di kamarnya.
Ia adalah wanita yang tegar. Selama aku menjadi managernya, tak pernah sekalipun ia mengeluh. Baru kali ini aku mendengarnya berkata lelah.
Berita tentang Ariana di TV itu belum juga selesai dikupas. Namun, aku lebih tertarik dengan laptop yang sedari tadi terbuka dan terus menyala. Kucoba untuk membaca isinya, ternyata itu adalah twitter milik Ariana. Oh ya ampun, aku tak percaya dengan apa yang kubaca. Ratusan bahkan mungkin ribuan chat dari followersnya di twitter itu, hampir semuanya menghujat Ariana. Sungguh, kata-kata dalam chat ini begitu tak enak untuk dibaca. Semuanya membully Ariana mulai dari sindiran halus hingga yang paling kasar, semuanya tertuang disini. Huh, dasar fans bermata dua, habis manis sepah di buang. Kasihan Ariana.
Kulirik arlojiku, sudah hampir satu jam ia berada dalam kamar mandi dan tak kunjung keluar. Aku mulai cemas. Akhirnya, ku beranikan diri untuk mengeceknya ke kamar mandi. Kudengar suara gemericik air kran dari dalam kamar mandi dan hanya itu yang kudengar, tak ada suara lain.
“Ar, Ariana..belum selesaikah mandinya?” Aku terus mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Perasaanku sungguh tak enak. “Ariana, apa kau baik-baik saja?” Ku coba untuk memutar gagang pintu. Ternyata tidak dikunci. Kubuka perlahan, ada bau amis yang sangat menyengat, dan…oh Tuhan, benarkah apa yang telah aku lihat dengan mata kepalaku ini. Genangan darah!! Ariana…tidak..tidak..!
“Saudara Tommy, silahkan turun dari truk. Kita sudah sampai.”
Suara polisi itu membuyarkan ingatanku. Mereka menggandengku masuk kekantor polisi dan meninggalkanku di sebuah ruang yang kosong. Aku masih saja tak percaya dengan apa yang aku lihat waktu itu. Ariana yang malang, maafkan aku. Sahabat macam apa aku ini. Begitu bodohnya aku hingga tak bisa membaca pikiranmu saat itu. Seharusnya aku bisa mencegah kau melakukan hal itu. Tapi, semua sudah terlambat. Aku hanya bisa termenung meratapi kejadian ini yang mungkin akan terus membuatku merasa bersalah seumur hidupku.


Eries, 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Anak

Toilet Training

Cerita berbuka puasa