Flash Fiction

Kubuka perlahan pintu rumahnya, akupun melangkah masuk. Pandanganku memindai ke setiap penjuru ruangan. Itu dia, Nesa. Sejam yang lalu ia menelpon, memintaku datang. Aku tahu betul yang sedang ia rasakan. Sejak kejadian kecelakaan yang merenggut kedua orangtuanya, ia berubah. Tak ada lagi senyum ceria seperti dulu, terlebih lagi setelah ia tahu tunangannya menikah dengan wanita lain. Ia pun merasa hidupnya sudah tak berarti lagi.

Nesa, kulihat dia terduduk sendiri dimeja makan. Tangan kanannya terlihat mengiris sepotong daging dengan sebuah pisau, sedang tangan kirinya menahannya dengan garpu. Begitu lahap dia makan, aku lega. Setidaknya ini bisa menepis kekhawatiranku yang muncul sejak tadi. Tapi, tunggu... Kenapa dia berbicara sendiri?? Ini aneh !
"Nesa, kau sedang bicara dengan siapa? Tanya ku cemas.
"Eh Dea, kamu sudah datang. Ayo sini, makan bareng dengan kami," jawabnya dengan penuh senyum.
Kami?? Siapa yang Nesa maksud dengan kami? Sedangkan dia duduk sendiri dimeja itu. Apakah dia berhalusinasi atau jangan-jangan dia sudah gila? Ah, tidak..tidak..!!
"Memangnya siapa yang sedang makan bersamamu Nesa?"
"Masa sih kamu lupa dengan mereka, ini ayah dan ibuku. Mereka akan mengajakku pergi setelah ini. Kamu mau ikut kan?"
Ya Tuhan..apa yang terjadi dengan Nesa? Lututku gemetar mendengar ucapannya tadi, jantung ini pun berdetak kencang. Rasa khawatir yang sempat hilang, kini mulai merasuk kembali keseluruh tubuh dan pikiranku.
"Nesa, hanya ada kita berdua disini. Aku tahu kau sedang sedih tapi aku mohon jangan bersikap seperti ini, sadarlah!"
Aku mulai mendekat, mencoba meraihnya tapi..ia justru beranjak dari tempat duduknya sambil memegang erat pisau ditangan kanannya. Ia tampak sangat marah.
"Jangan mendekat! Apa kau pikir aku ini gila?ha..ha..iya, aku memang sudah gila jadi lebih baik aku ikut ayah dan ibu saja ke surga agar aku bahagia."
"Tidak Nesa, aku mohon jangan nekat. Singkirkan pisau itu."
"Sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup Dea, percuma saja aku selalu tersakiti. Selamat tinggal Dea, aku menyayangimu."
"Tidak...tidak...Nesaaaa!!!"
Percikan cairan merah menyembur melalui perutnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu berat kaki ini melangkah, maafkan aku Nesa....

Prok..prok..prok..prok...
"Bagus..bagus sekali aktingmu. Kau lihat, temanmu sampai pucat pasi. Selamat bergabung dengan proyek terbaru film kami Nesa."

Ah..sial !!! Mereka mempermainkan rasa empatiku.


#flashfiction
Eries, Juli 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Anak

Toilet Training

Cerita berbuka puasa