KISAH SUAMI ISTRI
Cerita Malam Jumat
Malam Jumat merupakan malam yang ditunggu-tunggu bagi para pasutri, tak terkecuali aku dan suamiku. Karena biasanya di malam ini, kami melakukan kewajiban kami sesuai sunnah Rosul. Aku teringat dengan sapaan suamiku tadi pagi, "Ma, jangan lupa nanti malam ya! Udah gak karuan banget ni rasanya!"
Kontan saja aku heran. Tidak biasanya dia seperti itu. Apakah ini kode? Ah, yang jelas kata-kata tadi membuatku gugup malam ini. Salah tingkah. Terlebih lagi saat pulang kerja sore tadi, ia membawakan camilan kesukaanku, martabak telor spesial. Apakah ini sogokan? Ah, lagi-lagi aku gugup, seperti pengantin baru saja.
Aku membuka pintu toilet ini perlahan. Aku mengintipnya. Oh ya Tuhan, suamiku sudah siap di atas ranjang. Tubuhnya tak lagi ditutupi pakaian, hanya celana pendeknya saja yang masih menempel. Dia tertelungkup sambil asyik memainkan game di smartphonenya. Oh, dia begitu seksi di mataku.
"Mah, ayo dong cepat! Jangan lama-lama di toiletnya!" Teriaknya tak sabar.
"Iya Papah sayang."
Jantungku berdegup kencang, saat aku keluar dari balik pintu ini dengan hanya memakai balutan handuk. Lalu aku mendekati suamiku. Ia menoleh.
"Mamah habis ngapain? Memangnya sore tadi belum mandi ya?"
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan itu. Ah, dia masih saja sempat menggodaku. Aku duduk tepat di sampingnya, di tepi ranjang. Mengelus dan membelai punggungnya dengan mesra. Suamiku pun tampak sangat menikmatinya.
"Ayo dong Mah, cepetan! Semakin gak karuan nih rasanya!" Ucapnya sambil menggeliatkan punggungnya.
"Sabar sebentar dong Papah sayang."
Segera aku membuka handukku dan membuangnya ke lantai. Malam ini pasti akan menjadi malam yang indah untuk kami. Aku pun bersiap untuk memeluknya, namun tiba-tiba..
"Itu Mah, sudah Papah siapkan koin dan minyak kayu putihnya di meja rias Mamah. Pegel banget nih rasanya!"
Haaaahh??? Seketika itu rasanya langit runtuh tepat di atas kepalaku. Segera kukenakan handukku kembali dan melangkah menuju meja rias. Lalu, akupun mulai melukis indah di punggung suamiku dengan minyak dan benda bulat kecil berwarna perak bergambar kelapa sawit itu.
"Mah, jangan lupa pake baju dulu. Nanti masuk angin lho kaya Papah!"
Aaarrrrggghh, sebel!
Eries, Oktober 2017
Malam Jumat merupakan malam yang ditunggu-tunggu bagi para pasutri, tak terkecuali aku dan suamiku. Karena biasanya di malam ini, kami melakukan kewajiban kami sesuai sunnah Rosul. Aku teringat dengan sapaan suamiku tadi pagi, "Ma, jangan lupa nanti malam ya! Udah gak karuan banget ni rasanya!"
Kontan saja aku heran. Tidak biasanya dia seperti itu. Apakah ini kode? Ah, yang jelas kata-kata tadi membuatku gugup malam ini. Salah tingkah. Terlebih lagi saat pulang kerja sore tadi, ia membawakan camilan kesukaanku, martabak telor spesial. Apakah ini sogokan? Ah, lagi-lagi aku gugup, seperti pengantin baru saja.
Aku membuka pintu toilet ini perlahan. Aku mengintipnya. Oh ya Tuhan, suamiku sudah siap di atas ranjang. Tubuhnya tak lagi ditutupi pakaian, hanya celana pendeknya saja yang masih menempel. Dia tertelungkup sambil asyik memainkan game di smartphonenya. Oh, dia begitu seksi di mataku.
"Mah, ayo dong cepat! Jangan lama-lama di toiletnya!" Teriaknya tak sabar.
"Iya Papah sayang."
Jantungku berdegup kencang, saat aku keluar dari balik pintu ini dengan hanya memakai balutan handuk. Lalu aku mendekati suamiku. Ia menoleh.
"Mamah habis ngapain? Memangnya sore tadi belum mandi ya?"
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan itu. Ah, dia masih saja sempat menggodaku. Aku duduk tepat di sampingnya, di tepi ranjang. Mengelus dan membelai punggungnya dengan mesra. Suamiku pun tampak sangat menikmatinya.
"Ayo dong Mah, cepetan! Semakin gak karuan nih rasanya!" Ucapnya sambil menggeliatkan punggungnya.
"Sabar sebentar dong Papah sayang."
Segera aku membuka handukku dan membuangnya ke lantai. Malam ini pasti akan menjadi malam yang indah untuk kami. Aku pun bersiap untuk memeluknya, namun tiba-tiba..
"Itu Mah, sudah Papah siapkan koin dan minyak kayu putihnya di meja rias Mamah. Pegel banget nih rasanya!"
Haaaahh??? Seketika itu rasanya langit runtuh tepat di atas kepalaku. Segera kukenakan handukku kembali dan melangkah menuju meja rias. Lalu, akupun mulai melukis indah di punggung suamiku dengan minyak dan benda bulat kecil berwarna perak bergambar kelapa sawit itu.
"Mah, jangan lupa pake baju dulu. Nanti masuk angin lho kaya Papah!"
Aaarrrrggghh, sebel!
Eries, Oktober 2017
Tiwas aku malu sendiri le baca critanya mbak naris
BalasHapusHa..ha..berarti berhasil ya surprisenya!
BalasHapus