Fantasi

My Wolf (part 2)

pixabay.com


“Hah, dasar nona sombong,” ejek Ve sambil menjitak kepala sahabat karibnya itu. “Sudah ayo ke aula.” Mereka berjalan beriringan menuju aula untuk mengikuti rekruitment klub teater yang baru saja dimulai audisinya.

🍀🍀🍀🍀
Sementara itu di ruang aula, seorang gadis berkacamata tebal dengan muka yang berminyak serta gaya rambut dikepang dua, duduk disalah satu bangku antrian audisi. Dipangkuannya terdapat lima buah buku berukuran besar serta satu lagi buku tebal yang sedang dibacanya.

“Hei, minggir kamu! Ke belakang sana!” Keyla menendang tas ransel hitam yang berada di samping gadis itu.
“Tapi aku sudah antri sejak tadi,” kata gadis itu membela diri.
“Kamu ini gak tahu ya, lagi ngomong sama siapa? Dasar kutu buku! Cepetan minggir!” Ejek Ve pada gadis itu sambil menarik paksa lengannya hingga ia hampir terjatuh dari kursi.

Gadis itu terpaksa memberikan posisi antriannya untuk keyla dan Vera. Ya, siapa yang tak kenal dengan mereka berdua, anak pejabat tersohor di kota ini. Cantik, menarik, supel, bonafit, berbakat dan cukup pintar, membuat iri setiap kaum hawa yang ada di sekolah itu. Setiap detil yang ada pada mereka pasti akan menjadi kiblat bagi gadis-gadis seusianya.

Audisipun berakhir 5 jam kemudian. Tentu saja, senyum sang dewi malam telah menghiasi mega yang cerah bertabur bintang. Sherli, si gadis kutu buku itu berjalan sendiri menyusuri trotoar jalan yang saat itu sudah sepi. Entahlah, malam ini tidak seperti biasanya, padahal diatas sana bulan begitu indah, bulat dan terang.

Hembusan sang bayu malam itupun tak begitu kencang, namun berhasil menusuk kulit  Sherli serta merangsang bulu kuduknya untuk berdiri. Ditambah dengan gonggongan beberapa anjing penjaga toko yang terdengar memekikkan telinga. Suasana semakin mencekam. Sherli berusaha melebarkan langkah kakinya, setengah berlari. Hingga ia menghentikannya tepat di pertigaan jalan yang akan dilaluinya.

Gadis itu terperangah ketika mendapati segerombolan anjing liar yang sedang berkerumun mengelilingi seekor anjing lain, tepat ditengahnya. Tidak! Sepertinya itu bukan anjing. Moncongnya lebih runcing dari yang lainnya, tubuhnya juga lebih tinggi, begitupun dengan bulunya, lebih tebal. Itu lebih mirip dengan...serigala!

Hewan-hewan itu menyeringai satu sama lain, memamerkan taring tajam dengan air liur disela-sela moncongnya. Nampaknya mereka tidak terima ada hewan lain yang masuk ke wilayah mereka tanpa ijin. Anjing yang paling besar memberi aba-aba dengan mengonggong, lalu dalam hitungan detik mereka telah terlibat dalam suatu perkelahian yang sengit dengan serigala itu.

Sherli tercengang melihat pemandangan aneh di depan matanya, ia mematung. “Dari mana asalnya hewan-hewan ini?” pikirnya dalam hati. Ia segera meraih sebuah peluit yang tergantung di tali sleting ranselnya , lalu meniupnya. Memang tak ada bunyi keras yang keluar dari peluit itu, tapi setidaknya usahanya telah berhasil mengusir kawanan anjing liar yang tengah berkelahi. Hanya tinggal serigala itu, terhuyung-huyung mencoba berdiri dengan empat kakinya. Matanya yang merah menyala memandang tajam ke arah Sherli, kemudian berlalu.

🍀🍀🍀🍀
Kabar tentang perkelahian Juna dan Igor ternyata telah terdengar di seluruh penjuru sekolah. Bukan hanya dikalangan siswa, bahkan sebagian dewan guru pun telah mengetahuinya. Karena hal itulah popularitas Juna semakin meroket, terutama dimata para gadis.

Juna memang memiliki pesona tersendiri yang membuatnya kini diperebutkan oleh kaum hawa di sekolah itu. Tak terkecuali Keyla. Sementara bagi para siswa laki-laki, Juna adalah pesaing baru yang patut diperhitungkan karena dia berhasil menaklukan Igor, si preman sekolah.

🍀🍀🍀🍀
Sore ini audisi teater masih berlanjut. Kini giliran sesi wawancara untuk tiap peserta. Dan seperti biasa, Sherly selalu menjadi peserta dengan urutan paling akhir. Beruntung wawancara kali ini lebih cepat selesai. Sherli melirik arlojinya, jarum jam tepat membentuk garis lurus dengan posisi vertikal.

Gadis itu  selalu berjalan kaki karena tempat kosnya tak begitu jauh dengan sekolah. Namun kali ini ia memilih jalan memutar, karena tidak ingin menemui kejadian seperti malam kemarin. Ia mendongak keatas mega. Meski masih sore, sang dewi malam telah menampakkan dirinya dengan anggun. “Ah tentu saja, ini pertengahan bulan dalam penanggalan orang Jawa. Pantas saja bulan begitu bulat,” ucapnya bermonolog.

Tiba di lorong gang dekat tempat kosnya, Sherli menghentikan langkah. Ia merasa ada yang aneh, seperti ada yang mengikutinya. Beberapa detik kemudian, terdengar beberapa  anjing menggonggong, disusul dengan bunyi lolongan…serigala! Ya, serigala. Ia yakin yang didengarnya bukan lolongan anjing, tapi serigala. 

“Ah, jangan-jangan….” belum tuntas ia meneruskan angan-angannya, tetiba..
“Baaa...” seorang laki-laki paruh baya mirip preman menghadangnya sambil mengacungkan sebuah sangkur ke arah Sherli.

“Kamu siapa? Mau apa? Aku mohon jangan ganggu aku!” pinta Sherli dengan suara gemetar.
“Kalau kamu mau selamat, cepat serahkan harta yang kamu punya! Uang, Hp, perhiasan, semuanya!” ucap preman itu sambil melotot.
“Tapi aku gak punya apa-apa,” Sherli semakin gemetar seolah semua persendiannya akan lepas.
“ Ah..jangan bohong kamu,” si preman menggertak, “kemarikan tasnya!” Preman itu langsung menyerobot tas ransel milik Sherli, lalu mendorongnya hingga tersungkur ke tanah.
“Aduuh..jangan..itu punyaku, tolooong..tolooong!” gadis itu berteriak. 

Sesaat setelah itu, suara lolongan serigala terdengar, seolah menyahut.
“Diam kamu, gadis brengsek! Kalau teriak lagi akan ku bunuh kau!” ancamnya.

Namun tanpa diduga, seekor serigala datang dari arah belakang gadis itu. Menerkam si preman hingga terjengkang ke tanah. Kaosnya robek terkena cakar serigala yang sedikit menyerempet kulit dadanya.

“Hey, stop!” Sherli memekik.
Serigala itu menoleh, lalu melepaskan cengkeramannya dan membiarkan preman itu kabur.

“Terimakasih telah menolongku.”  Sherli benar-benar merasa bodoh karena mengucapkan kalimat itu kepada seekor serigala. Tentu saja serigala itu terdiam, hanya menatap Sherli tajam dengan matanya yang merah menyala. Ya, tatapan mata binatang yang sama yang pernah ia tolong malam lalu. Apakah serigala itu masih mengingatnya?


Eries, Oktober 2017
#new #ruangmenulis


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Anak

Toilet Training

Cerita berbuka puasa