Cerbung
UJIAN CINTA
Malam ini seperti malam-malam biasanya. Elena sendiri, di sana, di sofa yang empuk itu menanti kepulangan suaminya. Semilir angin masuk melalui celah-celah ventilasi membawa serta uap air dalam tiap hembusannya. Dingin menusuk kulit tidak dia pedulikan. Jarum jam bahkan telah melewati waktu tengah malam, namun sosok yang ia nanti tak juga terlihat batang hidungnya.
“Tenang ya, Nak! Sebentar lagi pasti ayah pulang.” Dia mengusap perutnya yang buncit mencoba berkomunikasi dengan makhluk yang kini masih berada dalam rahimnya. Elena membelainya dengan lembut. Dia yakin, makhluk itu pasti bisa merasakan betapa dirinya sangat menyayanginya.
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Kelopak matanya mulai mengatup, seolah tak kuasa lagi untuk menahan beban beratnya. Ya,seperti beban berat yang kini harus ia tanggung hanya karena rasa cinta yang besar terhadap suaminya. Ini adalah malam kesekian kalinya ia tertidur di sofa empuk itu, tanpa ada kehangatan yang menyelimutinya.
“Elena, bangunlah!” suara lembut penuh kehangatan membuat kelopak mata Elena terbeliak.
“Kau sudah pulang sayang, maaf aku ketiduran!” Elena mengusap-usap wajahnya juga merapikan pakaiannya yang kusut, memberi tanda bahwa ia tak ingin terlihat jelek di mata suaminya.
“Ini aku, David, bukan si brengsek itu!” ucap pemuda berperawakan tinggi atletis, sambil mengangkat dagunya ke salah satu sebuah kamar yang ada di rumah itu.
“David, apa kakakmu sudah pulang? Dimana dia, apa ia di kamar?”
Tanpa menunggu jawaban keluar dari mulut adik iparnya itu, Elena melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia sempat melirik jam dinding yang tergantung di pojok ruang tamu, hampir pukul empat. Elena mengepalkan tangan dan hampir saja mengetuk pintu yang ada di depannya, namun tangan lain mencegatnya sebelum kepalannya menyentuh pintu itu.
“Apa yang akan kau lakukan, Elena?” David membeliakkan matanya sambil mengenggam erat tangan wanita itu.
Elena terkejut hingga bola matanyapun ikut membeliak lebar tak kalah dengan David. Lalu ia mengibaskan tanggannya dan memaksa David melepaskan cengkeramannya, “Lepaskan aku!”
“Jangan bodoh Elena! Tidakkah kau dengar suara itu? Suara desahan napas dua orang insan yang tengah bercinta memuaskan hawa nafsunya. Suamimu itu, telah menganiaya batinmu sedemikian rupa. Apa kau akan terus menerus berpura-pura memberikan perhatian padanya?”
“Berpura-pura?” Elena mengernyitkan dahinya, “Aku tidak berpura-pura, David. Bagaimanapun juga, dia adalah suamiku. Dan sebagai seorang istri, aku akan berusaha meluruskan langkah suamiku manakala dia sedang tersesat.”
“Kakakku itu tidak tersesat, tapi dia sengaja keluar dari jalur yang seharusnya. Jadi kau tidak perlu bersusah payah menyadarkannya. Dia sudah mengambil keputusannya sendiri.” Suara teriakan David rupanya mengusik penghuni kamar yang sedari tadi tengah menjadi bahan pembicaraannya.
Seorang laki-laki berwajah mirip David, namun perawakannya lebih kecil darinya, keluar dari balik pintu kamar. Laki-laki itu bertelanjang dada, hanya mengenakan balutan handuk untuk menutupi bagian bawah pinggangnya.
“Kenapa kalian ribut di depan kamarku? Mengganggu saja!” Bau alkohol yang menyengat keluar dari mulutnya saat mengucapkan kalimat itu. Bola matanya nampak merah, juga dengan raut mukanya.
“Sayang…ada apa ini? Ayo, kita lanjutkan malam kita,” kalimat manja terdengar lirih dari mulut seorang wanita yang tiba-tiba bergelayut manja di pundak laki-laki yang bernama Devan.
Siapakah gerangan wanita itu??
Eries, November 2017

Komentar
Posting Komentar