Nasib Sial

HARI YANG BEGITU SIAL

Hari ini tak seperti biasanya. Mita memacu laju motornya dengan begitu kencang. Wajah yang cantik dengan hiasan merah di bibirnya terlihat kontras dengan penampakan mimik sang empunya wajah. Ada yang panas dalam otaknya, bahkan hingga tembus ke dinding hatinya. Jantungnya pun berdegup kencang, seiring napas nya yang terengah-engah menahan tangis. Hingga ia diam seribu bahasa.
Bagaimana tidak, naskah RPP yang telah ia persiapkan sejak seminggu yang lalu lengkap dengan penilaian dan portofolio anak, kini telah rusak. Padahal hari ini ada jadwal micro teaching dengan dosen pembimbing. Celaka sudah! Ia tak punya alasan tepat untuk berdalih pada pak Hasan tentang hal ini. Tidak mungkin Mita akan jujur kalau naskahnya terkena tumpahan sarapan bubur ayam si baby Tito, anak pemilik kos.

"Kamu terlambat lagi Mita?" sambut pak Hasan dengan wajah bengis.
"Iya pak, saya mohon maaf."
"Mana tugasmu? Teman-teman satu kelompokmu sudah mengumpulkannya dan berangkat ke SD percontohan."
"Sekali lagi saya mohon maaf pak, tugasnya ketinggalan dikos. Saya mohon ijin sekali lagi agar bisa melaksanakan micro teaching dengan urutan yang terakhir. Saya janji pak!" ucap Mita  memelas.
"Dasar mahasiswa malas! Sudah terlambat, banyak permintaan lagi. Bilang saja kalau kamu belum mengerjakannya." ucap pak Hasan sambil berlalu dari hadapan Mita.

Ia segera menggunakan kesempatan emas itu. Mengambil seribu langkah keluar kampus untuk mencari rental komputer lalu mengeprint ulang tugasnya itu.
"Ah, syukurlah akhirnya selesai juga!" ucap Mita girang.
Ia pun  melaju kembali ke kampus dengan motor bebek pinjaman dari ibu kos. Namun nasib sial sedang mengintainya. Saat ia mencoba turun dari motornya tiba-tiba "Preeeeeettt!" Begitu keras terdengar. Ia langsung menoleh kebelakang pantatnya.
"Astaga, kenapa hari ini aku sial banget sih!" Gerutu Mita.
Ternyata rok span hitamnya robek, tepat pada belahan tengah bagian belakang hingga ke atas. Sampai-sampai, bagian pahanya sedikit tersingkap.
"Aduuuhh, bagaimana ini. Tidak mungkin aku kembali ke kos, itu akan makan waktu." Ucapnya dalam hati.
Ia begitu kesal, kenapa motor maticnya harus bocor sehingga ia terpaksa meminjam motor bebek ibu kos yang akhirnya membuat roknya terkoyak. Ah, memang nasib.

"Mudah-mudahan tidak ada orang yang melihatku." Mita mengendap-endap masuk keruang sekretariat masjid. Ia ingat ada sebuah kotak yang menyimpan berbagai peralatan termasuk benang dan jarum. Mita meraih mukena, lalu memakainya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya karena ia harus melepas roknya untuk dijahit.
"Mita, kau sedang apa disini?" suara Rendi mengagetkannya.
Ya, Rendi. Pria incaran Mita selama belajar di kampus ini. Jadi bisa dibayangkan betapa malunya ia, bertemu dengan Rendi dalam situasi yang seperti itu.
"Sial, sial, sial. Kenapa Rendi harus melihatku dalam keadaan seperti ini." Gerutunya dalam hati. Mita berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Rendi. Menebalkan muka seolah tak ada seorangpun disana. Ia bergegas berjalan cepat menuju Sekolah Dasar tempat micro teaching berlangsung. Pak Hasan pasti sudah menunggunya.

"Ini pak, naskah RPP nya." Mita menyodorkan tugasnya itu.
"Untung kamu tidak terlambat lagi. Saya sudah mempersiapkan nilai D untuk kamu."
Glekk! Mita menelan ludah. Semua mahasiswa tahu, memang tak mudah memenangkan nilai dari dosen satu ini.

"Selamat siang anak-anak."
"Selamat siang bu guru!"
Mita langsung memulai micro teachingnya sesuai dengan skenario RPP yang telah ia buat. Seketika suasana kelas menjadi riang dengan aktivitas pembelajaran yang Mita suguhkan. Ia pun larut bersama keceriaan wajah-wajah polos anak didiknya. Pak Hasan pun terlihat tersenyum, tanda ia mengakui bahwa Mita memang calon guru yang berbakat.

"Ah, lelahnya hari ini!" ucap Mita untuk dirinya sendiri setibanya dikamar kos. Niat hati ingin sejenak merebahkan tubuh yang penuh dengan keringat. Tiba-tiba,
"Mitaaaa, apa kamu sudah pulang?" suara teriakan ibu kos membuat Mita langsung beranjak dari tempat tidurnya.
Saat membuka pintu kamarnya, terlihat ibu kos telah berdiri tepat didepannya sambil berkacak pinggang dengan mata sedikit melotot. Ia tampak begitu marah. Mita terdiam melihat pemandangan itu, hanya hatinya yang berucap lirih " oh Tuhan, kesialan apa lagi yang akan kudapat kali ini?"




Eries, September 2017


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Anak

Toilet Training

Cerita berbuka puasa